SIMBOL DAN ARTI LAMBANG PAGAR NUSA Simbol LPS Pagar Nusa berupa gambar Pita bertulisan LAA GHAALIBA ILLA BILLAH yang melingkupi bola dunia di dalam kurva segi lima dengan beberapa atribut dan perincian sebagai berikut Kurva segi lima merupakan simbolisasi dari Syari’at Islam yang mempunyai lima rukun dan merupakan simbolisasi pada adanya rasa kecintaan kepada bangsa dan negara yang berpancasila. Simbolisasi ini berangkat dari dasar pengertian rukun Islam yang Nabi SAW sampaikan Islam itu didirika atas lima Bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji ke baitullah bagi yang mampu, dan puasa Ramadhan HR Bukhory Tiga garis tepi yang sejajar dengan garis kurva merupakan lambang dari tiga pola utama yang berjalan bersama dalam cara hidup warga Nahdlatul Ulama yaitu Iman, Islam, Ihsan sebagaimana Hadits Nabi SAW ketika ditanya oleh Malakat Jibril. Bintang sudut lima sebanyak sembilan buah dengan pola melingkar di atas bola bumi dan pada bagian paling atas bintangnya tampak lebih besar ini merupakan ekspresi dari pola kepemimpinan wali songo dan juga idealisasi dari suatu cita-cita yang bersifat maksimal karena selain bintang merupakan simbol kemuliaan juga jumlah sembilan merupakan angka tertinggi. Ini sesuai dengan mimpi Nabi Yusuf tentang bintang sebagai isyarat akan mencapai kemuliaan. Firman Allah SWT Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya Wahai ayahku sesungguhnya aku bemimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan ; kulihat semuanya sujud kepadaku. 4 Bintang terbesar mengisyaratkan adanya pola kepemimpinan yang dalam Islam merupakan suatu keharusan. Gambar cabang / trisula terletak ditengah bola dunia bagian atas tepat dibawah bintang terbesar merupakan manifestasi kenyataan historis bahwa senjata jenis inilah yang tertua dan lebih luas penyebarannya di bumi nusantara. Sebagai kelompok beladiri pencak silat anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia IPSI , Pagar Nusa memasukkan simbol tersebut supaya tidak tercerabut dari identitas persatuan beladiri asli Indonesia. Sebagaimana kita maklumi bersama Barang siapa memisahkan diri dari kelompok dimakan srigala Bola Dunia / gambar bumi tepat di tengah merupakan ciri khas dari organisasi underbow Nahdlatul Ulama yang simbol utamanya berupa bumi dan tampar sebagaimana di lukiskan oleh tangan pertamanya KH. RIDWAN ABDULLAH berdasar Istikharahnya. Pita melingkupi bumi dengan tulisan LAA GHAALIBA ILLAA BILLAH Yang berarti tidak ada yang menang mengalahkan kecuali dengan pertolongan Allah merupakan tata nilai beladiri khas Pagar Nusa. Kalimat ini pada awal pembentukannya berbunyi LAA GHAALIBA ILLALLAH kemudian oleh Sansuri Badawi dianjurkan untuk diberi tambahan ba sehingga berbunyi seperti sekarang. Hal ini sesuai dengan pola kalimat pada kalimat LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH yang bekonotasi umum am bagi segala bidang kehidupan. Sedangkan secara khusus khas dengan mengambil tibar bahwa dalam Al-Quran kegiatan-kegiatan yang melibatkan beladiri secara fisik maupun non fisik banyak disebut dengan menggunakan kalimat yang berasal dari akar kata ghalaba, maka Pagar Nusa menggunakan kalimat sebagaimana tercantum dalam simbol Firman Allah Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkanmu QS. Ali Imron 160 Orang orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah QS. Al-Baqarah 249 Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang -orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang. QS. Al-Maa-idah 56 . Warna Hijau dan putih merupakan dua warna yang secara universal mengandung makna baik. Sebab segala yang bersih dan suci baik secara materiil fisik maupun immateriil non fisik dapat disimbolkan dengan warna putih. Sedangkan hal-hal yang bersifat sejuk, subur, makmur, tenang, enak dipandang dan lain-lain yang membahagiakan selalu dapat disimbolkan dengan warna hijau. Warna Putih merupakan warna wajah cerah bagi orang-orang yang memperoleh kebahagiaan di akhirat. Warna hijau merupakan warna ahli sorga yang merupakan tempat kebahagiaan manusia, sebagaimana digambarkan oleh Allah SWT. Mereka itulah bagi mereka surga , megalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. 31Dengan demikian kombinasi warna itu merupakan kombinasi warna yang mengidolakan pemandangan di Surga kelak. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. QS Al-Insan 2 Pagar Nusa lahir sebagai bentuk keprihatinan para Kyai, ulama, pendekar serta tokoh-tokoh pencak silat terhadap pergeseran nilai pencak silat di dunia pesantren. “Pesantren kuno itu sekaligus padepokan silat,” kata Gus Maksum. Gus Maksum Jauhari atau Mbah Maksum memang selalu identik dengan dunia persilatan, terutama “PAGAR NUSA” . Pagar Nusa merupakan Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama hasil musyawarah para Kyai, ulama, pendekar serta tokoh-tokoh pencak silat NU pada tanggal 12 Muharram 1406 H di Jombang dan pada musyawarah kedua tanggal 3 Januari 1986 di pondok pesantren Lirboyo ditetapkan sebagai wadah para pesilat NU sekaligus mengukuhkan Mbah Ma’sum sebagai ketuanya. Mbah Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro 1957 lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan Sebagai seorang kiai, Mbah Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “nyleneh” di pesantren, Mbah Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Mbah Maksum masih memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya. Dikalangan masyarakat umum, Mbah Maksum dikenal sebagai orang yang pemberani dan rendah hati. Kerendahan hati Mbah Maksum dirasakan sendiri oleh penulis, saat penulis, adik penulis serta beberapa pesilat Pagar Nusa Unisma datang untuk sillaturahmi sekaligus hendak turun di ajang pencak Dor PP Lirboyo. Mbah Maksum dengan rendah hati mempersilakan rombongan kami untuk masuk, makan bersama dan memberikan nasehat-nasehat yang tidak terkesan “menggurui’. Kesan kerendahan hati Mbah Maksum ini semakin dalam di hati kami, manakala Mbah Maksum mengetahui bahwa adik penulis adalah warga tingkat I PSHT Madiun. Tidak ada perbedaan sikap Mbah Maksum ke adik penulis. Bahkan Mbah Maksum menyampaikan 4 hal kepada kami semua, yakni pentingnya persatuan diantara sesama pesilat Nusantara. Kedua, ajang pencak Dor adalah ajang kejujuran, artinya di atas panggung tidak melihat aliran namun yang dilihat adalah kemampuan dari individu pesilat itu sendiri. Ketiga, ajang pencak Dor dan budaya pencak Silat harus senantiasa dilestarikan sebagai wadah pembinaan mental bangsa. Selanjutnya pesan terakhir dari Mbah Maksum adalah para pesilat harus memiliki jiwa ksatria dan senantiasa berbakti kepada agama, nusa dan bangsa. Keberanian dan kharisma Mbah Maksum tersebut seharusnya membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan dan pencak silat di pesantren maupun masyarakat, baik melalui wadah Pagar Nusa atau pun yang lain. Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Mbah Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI, Mbah Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Mbah Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa. Warna Kuning berarti bahwa IPSI mengutamakan budi pekerti dan kesejahteraan lahir dan batin dalam menuju kejayaan nusa dan bangsa Bentuk Perisai Segi Lima berarti bahwa IPSI berasaskan landasan idiil Pancasila, serta bertujuan membentuk manusia Pancasila sejati Sayap Garuda berwarna Kuning berototkan merah berarti kekuatan bangsa Indonesia yang bersendikan kemurnian, keluruhan dan dinamika, Sayap 18 lembar, bulu 5 lembar + 4 lembar + 8 lembar berarti tanggal berdirinya IPSI adalah 18 Mei 1948. Sayap 18 lembar, terdiri dari 17+1 berarti IPSI dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan berssatu membangun negara Untaian lima lingkaran melambangkan bahwa IPSI melalui olahraga merupakan ikatan peri kemanusiaan antara pelbagai aliran dengan memegang teguh asas kekeluargaan, persaudaraan dan kegotong royongan Ikatan pita berwarna merah,Putih bahwa IPSI merupakan suatu ikatan pemersatu dari pelbagai aliran Pencak Silat, yang menjadi hasil budaya yang kokoh karena dilandasi oleh rasa berbangsa, berbahasa dan bertanah air Indonesia. Gambar tangan putihdi dalam Dasar hijau menggambarkan bahwa IPSI membantu negara dalam bidang ketahanan nasional melalui pembinaan mental/fisik agar kader-kader IPSI berkepribadian nasional serta berbadan sehat, kuat dan tegap.
Abdullah Alawi. Download PDF. Pada lambang Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa tertulis Laa ghaaliba Illa billah yang melingkar di bola bumi; terletak di bawah trisula. Lafaz itu diusulkan KH Suharbillah, seorang pendekar silat dan salah seorang pendiri Pagar Nusa.
Pencak silat menjadi salah satu cabang olahraga yang berkembang di Indonesia. Olahraga pencak silat tidak terlepas dari tradisi masyarakat Indonesia serta salah satu olahraga yang berperan dalam perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan. Ada berbagai macam organisasi pencak silat yang terbentuk di Indonesia. Salah satunya adalah Pagar Nusa atau Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa. Organisasi pencak silat ini telah didirikan sejak 3 Januari 1986. Pondok Pesantren Lirboyo merupakan tempat bersejarah yang menjadi tempat peresmian Pagar Nusa. Nama Pagar Nusa diberikan oleh KH. Mujib Ridlwan yang juga merupakan pencipta lambang NU. Sebagai sebuah organisasi pencak silat resmi, Pagar Nusa juga mempunyai lambang tersendiri. Hal ini dilakukan agar semangat perjuangan dan tujuan dari Pagar Nusa dapat tercermin dalam lambang lambang dari sebuah organisasi tentu memiliki makna yang mendalam. Hal ini dikarenakan lambang menjadi identitas bagi organisasi tersebut. Sehingga, lambang perlu dibuat dengan makna yang mendalam. Hal ini juga terjadi pada lambang Pagar Nusa. Ada berbagai macam ornamen yang ada pada lambang Pagar Nusa. Salah satunya adalah bentuk segi lima yang menjadi bentuk utama dari lambang Pagar Nusa. Bentuk segi lima pada lambang Pagar Nusa melambangkan jumlah rukun Islam yaitu lima rukun. Selain itu, jumlah butir Pancasila sebagai dasar negara Indonesia juga lima. Oleh karena itu, bentuk segi lima ini menandakan bahwa Pagar Nusa memiliki dasar rukun Islam dan Pancasila saat menjalankan segi lima ini kemudian diberikan tepi garis berwarna putih yang berjumlah tiga buah. Tiga garis putih itu melambangkan bahwa sikap manusia dalam tiga bidang yaitu ibadah, akidah, dan muamalah. Tiga garis putih tersebut juga memiliki makna yang lain yaitu komponen penting dalam kehidupan seorang muslim yang harus dimiliki yaitu iman, islam, dan ihsan. Lambang Pagar Nusa juga dilengkapi dengan tulisan Pencak Silat Nahdlatul Ulama. Tulisan ini terletak di bagian atas lambang. Tulisan tersebut menandakan bahwa Pagar Nusa ada di bawah naungan Nahdlatul Ulama NU.Sementara itu, di bawah tulisan Pencak Silat Nahdlatul Ulama, terdapat 9 buah bintang. Ada 1 bintang besar di bagian tengah dan 4 bintang di kedua sisinya. Salah satu makna dari 9 bintang tersebut adalah 1 bintang besar melambangkan Nabi Muhammad SAW, 4 bintang di sebelah kanan melambangkan Khulafaur Rasyidin, dan 4 bintang di sebelah kiri sebagai jumlah mazhab yang ada dalam Islam. Makna yang lain adalah 9 buah bintang sama dengan jumlah Walisongo yang mengajarkan Islam di Indonesia. Sementara itu, ada trisula yang ada di tengah melambangkan alam rahim, alam dunia dan alam akhirat yang saling berkesinambungan dan seimbang. Di belakang trisula ada bola dunia yang melambangkan pendekar dari Pagar Nusa dapat berkembang di berbagai tempat. Sedangkan pita di depan bola dunia dan bertuliskan laa gholiba illabillah memiliki arti tiada kemenangan selain pertolongan dari Allah. Sedangkan background berwarna hijau melambangkan Lambang Pagar Nusa dengan Resolusi TinggiSebagai sebuah organisasi pencak silat aktif, Pagar Nusa tentu memiliki berbagai macam aktivitas. Dalam penyelenggaraan aktivitas atau kegiatan tersebut tentu membutuhkan lambang Pagar Nusa yang harus dicetak. Untuk memastikan bahwa kualitas gambar lambang Pagar Nusa baik atau resolusi tinggi, masyarakat bisa mengunduh logo dari Ada banyak gambar dengan kualitas tinggi di website tersebut.
ARTI LAMBANG PAGAR NUSA. Simbol Kurva Segi Lima. Arti Kurva segi lima pada lambang pagar nusa adalah Rukun Islam, bedasarkan Hadis Nabi Muhammad SAW bahwa islam di bangun atas 5 dasar, yaitu : syahadat, sholat, bayar zakat, dan puasa bulan Ramadhan.
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang Arti Lambang Pagar Nusa, yang merupakan perlambang persatuan para pendekar silat di Indonesia. Ada baiknya kita bahas sedikit dulu tentang ilmu bela diri yang ada di Indonesia saat ini. Ilmu bela diri sejatinya adalah milik semua orang, siapa saja bisa mempelajarinya asal untuk tujuan yang baik, atau setidaknya bisa melindungi dirinya sendiri ketika ada ancaman. Jangan sampai kita mempelajarinya demi untuk tujuan yang kurang baik atau malah digunakan untuk mencelakai seseorang. Ilmu bela diri saat ini memang sudah banyak jenisnya, termasuk yang sudah ada di Indonesia sejak zaman dulu yaitu seni bela diri Pencak Silat. Perguruan silat di Indonesia pun tergolong masih banyak dan tidak tergeser oleh perkembangan zaman, bahkan masih banyak juga yang perguruan atau perkumpulan pendekar silat yang saat ini masih terdengar namanya. Salah satunya adalah Pagar nusa. Pagar nusa merupakan badan otonom NU yang memang khusus menangani soal pengembangan ilmu bela diri yang ada di nusantara khususnya pencak sipat. Pagar nusa sendiri terdiri dari berbagai macam aliran dan perguruan di nusantara yang bersatu membentuk pagar nusa karena mempunyai visi dan misi yang sama. Peserta dari pagar nusa sendiri tidak lain adalah para santri yang sedang mengenyam pendidikan agama Islam di sebuah pesantren. Memang tidak ada salahnya dan wajar jika para santri belajar ilmu bela diri, selain bisa menjaga diri pencak silat juga merupakan sebagian warisan budaya yang ada di Indonesia. Sebagai santri yang belajar ilmu bela diri pencak silat pagar nusa tentu harus siap menerima semua materi baik dari segi praktik dari segi gerakan dan jurus agar tubuh kuat dan juga dari segi sejarah dan asal muasal agar tidak lupa diri dan tahu dari mana kita berasal. Lalu apa sebenarnya arti Lambang Pagar Nusa itu sendiri? Lambang ini menggambarkan ciri khas dan identitas mutlak dari perguruan pencak silat pagar nusa. Tentunya setiap santri dan warga pagar nusa harus tahu artinya. Arti Lambang Pagar Nusa 1. Kurva segi lima Segi lima di lambang Pagar Nusa maknanya adalah jumlah rukun Islam yang juga berjumlah lima. Dan juga jumlah poin di dalam Pancasila yang juga berjumlah lima. 2. Tiga garis tepi warna putih Tiga garis tepi di dalam lambang pagar nusa maknanya melambang sikap manusia dengan ketentuan ibadah, akidah dan muamalah. Dan juga melambangkan kehidupan religi Islam yaitu iman, Islam dan Ikhsan. 3. Sembilan bintang emas Sembilan bintang emas maknanya melambang jumlah walisongo. Satu bintang besar di tengah melambangkan derajat dan kewibawaan walisongo. dan makna lain adalah satu bintang besar di tengah itu melambangkan nabi Muhammad SAW dan Bintang empat di kanan kulafaurasidin. Dan bintang empat di kiri melambangkan jumlah mahdzab. 4. Pita bertuliskan LA GOLIBA ILABILAH La goliba ilabilah sendiri artinya "tiada kemenangan selain dari pertolongan ALLAH" tulisan di pita ini juga menjadi moto dari pendekar pagar nusa. 5. Tulisan pencak silat Nahdlatul Ulama Tulisan di lambang pagar nusa ini menandakan kalau pencak silat pagar nusa sendiri berdiri di bawah naungan Nahdlatul Ulama. 6. Bola dunia Maknanya melambangkan kalau pendekar pagar nusa itu universal. Dapat berdiri dan berkembang di seluruh dunia. Dan juga melambangkan kalau pendekar pagar nusa itu ada dimana-mana. 7. Trisula Maknanya melambangkan perjalanan kehidupan manusia yaitu alam rahim, alam dunia dan alam akhirat. Trisula sendiri adalah senjata yang melambangkan keseimbangan dunia persilatan. 8. Background hijau Warna hijau disini maknanya adalah kesuburan, ketenteraman dan kedamaian. Warna hijau juga adalah warna yang identik dengan Nahdlatul Ulama. Itu dia arti lambang pagar nusa. Mudah-mudahan bisa dimengerti untuk para pendekar pagar nusa khususnya dan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya. Semua arti lambang pagar nusa tentunya mengajarkan kebaikan, selain itu juga sangat memegang teguh dan menjunjung tinggi ajaran agama Islam. HIaNP.